25-12-2011

"Gila"

Kosong, kosong dan kosong. Begitulah pandanganku, meski yang kulihat diluar begitu ramai tetap saja pandanganku kosong. Kenapa aku ada disini? Di tempat serba putih, sempit, tertutup dan beraroma bau yang tak aku sukai. Aku terduduk lesu di atas ranjang besi berkasur dengan sepray putih. Entah apa yang aku pikirkan? Aku seperti orang idiot yang tak tahu arah, tersesat didalam pikiranku sendiri, yang kuingat hanyalah sebuah nama yaitu Andi. Ya… nama itu yang sering aku ucapkan ketika aku merasa ketakutan, sehingga mataku basah seketika. “Andi…” kumenjerit sekencang – kencangnya. “Kreeekk…krekkk…” suara pintu yang perlahan terbuka yang membiarkan cahaya menerobos ruangan dan menyilaukan mataku. “Siapa kalian?” tanyaku pada wanita yang berseragam putih itu. Tetapi tak ada yang menjawab sama sekali, aku tetap bertanya, “Siapa kalian? Siapa kalian?” berulang – ulang aku bertanya tetapi tetap saja tak ada jawaban sehingga membuatku teriak ketakutan begitu histerisnya, “Pergi…” sembari melemparnya dengan barang – barang yang berada dekat denganku. Semakinku berteriak, mereka semakin mendekat. Mengikat kedua tangan dan kakiku. Mereka begitu kejam memasungku seperti ini, bukan itu saja, mereka menghujamkan jarum dilengan tanganku, aku mencoba berontak tetapi tubuhku semakin lemas tak berdaya. Mataku pun terasa berat, entah apa yang mereka masukkan kedalam tubuhku, air mata yang membasahi pipiku kini mulai mengering dan akhirnya aku kehilangan kesadaran. Tampak begitu gelap tanpa cahaya seperti tak ada kehidupan, “Tempat apa ini?” tanyaku. Tiba – tiba aku melihat cahaya terang, aku ikuti dan aku berada di suatu kehidupan yang sepertinya aku tahu itu. “Sayang, mau kemana kita?” Tanya Andi padaku. “Pulang aja ya, capek nih.” Jawabku. “Hmmm… nanti dong sayang, aku masih ingin bersamamu, hari ini aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu. Mau ya sayang?” Bujuknya. “Ah… malas, pulang ajalah.” Kataku menolak ajakan Andi. “Please… please… mau ya?” Rayu Andi sembari menggenggam tanganku. “Nggak… kataku nggak ya nggak.” Bentakku pada Andi. Aku tetap menolak ajakan Anda meski dia bertekuk lutut dihadapanku, memasang muka memelas, tapi aku bersikokoh untuk pulang. Andi pun mengantarku pulang, disepanjang perjalanan kami berdua membisu tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut kami berdua, terasa canggung. Mungkin Andi marah denganku karena tak menghiraukan keinginannya. “Berhenti disini aja.” Kataku menghentikan laju motor Andi. Seketika Andi pun berhenti. “Kenapa disini?, masuk aja ya.” Ucapnya sambil membuka kaca helmnya. “Ya nggak apa – apa, kalau masukkan harus mutar dulu, ngerepotin jadi disini aja., biar aku jalan.” Jelasku. “Oh… ya udah, aku pulang.” Katanya. Aku masih berdiri di depan lorong gangku, menunggu sampai Andi menjauh. Tiba – tiba saja aku melihat motor yang dikendarai Andi yang melaju kencang bertabrakan dengan truk yang berlawanan arah. Aku melihat tubuh Andi terlempar 5m dari kendaraannya yang terhempas oleh truk. Kejadian itu tepat didepan mataku, dengan cepat aku menghampiri Andi yang penuh dengan luka dan darah, helmnya pun pecah. Aku mencoba membangunkannya, “Sayang bangun…” pintaku pada Andi. Aku tak dapat membendung air mataku lagi, aku terus mencoba membangunkannya, mengoyang – goyangkan tubuhnya tetapi tak ada respon sama sekali, aku hanya merasakan Andi menggenggam erat tanganku, tapi itu tak berlangsung lama, genggemannya semakin mengendur dan akhirnya Andi menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuanku. “Andi… Andi… Andi…” teriakku. Ketika aku teriak, aku tersontak terkejut, nafasku tak beraturan, kuberanjak dari tempat tidur, duduk di sudut ruangan, aku merasakan ketakutan yang dalam. Keesokkan harinya, pintu yang selama ini tertutup rapat kini terbuka lebar, aku melangkahkan kaki keluar, belum sempat ku berjalan jauh, tiba – tiba ada segerombolan orang mendekatiku, ada yang menjambak – jambak rambutku, ada yang menarik – narik lengan bahkan tubuhku, hingga aku terjatuh. Aku hanya bisa berteriak,”Andi…” seolah meminta tolong kepada orang yang memiliki nama itu. Tak lama dari itu orang – orang yang tadi berlaku kasar kepadaku pergi, menjauh dariku. Aku masih terlihat begitu ketakutan, aku berlari dan memeluk seseorang yang aku anggap itu Andi, tetapi rangkulan tangaku terlepas dan aku pun terjatuh. “Dasar gila !” Bentak orang itu

1 Rasa dan Pengorbanan


“Pengumunan bagi calon mahasiswa yang telah lulus seleksi pertama harap berkumpul di ruang auditorium segera, karena ada pemberitahuan mengenai seleksi berikutnya.” Suara yang menggema dipenjuru ruangan, yang sejenak menghentikan keributan di ruangan tersebut. “Hore… hore…” teriak salah satu calon mahasiswa dengan kencangnya. “Ssssttt… bisa diam nggak, berisik tau !” bentak teman sebelahnya yang terganggu akibat teriakannya. “Weeeeekkk…” cibirnya sambil meninggalkan ruangan. Ruangan yang tadinya ramai dengan sorokan kegembiraan yang bercampur aduk dengan isak tangis peserta yang kurang beruntung, kini menjadi sepi, sunyi dan senyap bak area pemakaman. ( iiihhh serem !!!) # “Din?” sapa seseorang memanggil namaku. Suaranya terdengar jelas ditelingaku namun aku tidak tahu siapa yang memanggil ?, aku mencari dikerumunan orang – orang yang begitu padat dan ramai tetapi tidak ada yang aku kenal. “Bruukkk…” suara yang terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh ke lantai. “Aduh…” keluhku sambil memagang dan mengelus – elus pundakku. Ternyata suara tadi adalah suara tas yang jatuh. Yah… tentunya itu adalah tasku. Ketika aku merunduk ke bawah, mencoba menggapai tas yang berada di lantai, tiba – tiba ada seseorang yang mengambilnya. Aku tersontak kaget, tanganku yang kugunakan untuk menggapai tadi terhenti seperti mesin waktu yang distop beberapa saat, ketika waktu berputar kembali seperti biasa, aku berteriak, “Woy… tasku” sambil menoleh ke arah seseorang yang mengambil tas tadi, aku hanya melihat sebuah senyuman yang menurutku lumayan manis, oops… salah, bukan lumayan manis  tetapi luar biasa manisnya dan satu kata yang terdengar “Maaf”. Aku tak menghiraukan kata itu, aku sungguh terpesona dengan makhuk satu ini. “Ya ampun gantengnya.” Pujiku dalam hati sambil gigit jari melihat pemuda dihadapanku. ( jadi kayak orang bego’ ). “Halo?” katanya sambil melambai – lambaikan tangannya di depan wajahku. “Ada yang sakit?” lanjutnya membuyarkan pendanganku. “E…e…enggak kok.” Jawabku terbatah – batah. ( asli bego’ nih, bukan kayaknya lagi. hahahaaha ). “Oh yah udah, sekali lagi maaf ya?” Kata pemuda itu sambil meletakkan tali tas kepundakku. Dia pun belalu dari hadapanku. “Ehm… namanya siapa ya? Wah… kenapa aku nggak nanya tadi.” Celotehku sambil memukul – mukul dahi sendiri. Aku berjalan menuju kursi yang kosong dengan muka menyesal dan penasaran, aku duduk dengan manis, tatapan ke depan dengan raut muka cemberut. 5 menit… 10 menit… 15 menit telah berlalu namun aku tetap duduk manis, tatapan ke depan dengan muka cemberut persis sama dengan keadaan sebelumnya. “Hai Din... disini rupanya.” Sapa seseorang, namun ku tetap diam, hanya menolehkan kepala ke kanan dan yang ku lihat sesosok gadis cantik dengan rambut terurai panjang. “Hai Ta.” Balasku menyapa. Ini adalah sahabat karibku nama lengkapnya Tari Pratiwi, yang ku sapa dengan nama Tata. Dia bersahabat denganku sejak kecil bahasa kerennya sejak masih ingusan (hehehe). Aku dan Tata selalu sekolah di tempat yang sama, kecuali dijenjang sekolah menengah ke atas. Harapanku, Aku dan Tata mendapatkan perguruan tinggi yang sama, meskipun diprogram yang berbeda. Yah… karena ‘skill’ yang kami punya berbeda. “Din, gimana test berikutnya kita berangkat bareng ya?’ ajak Tata. “Ok!” sahutku sambil mengacungkan jempol. ## Dua bulan berikutnya setelah test terakhir, pengumuman mahasiswa yang lulus di salah satu universitas negeri di kotaku telah dapat diakses melalui internet, dimana aku dan sahabatku Tata ikut dalam test tersebut. Dengan hati penasaran dan jantung yang berdegup kencang yang terdengar “dag dig dug” serta keringat bercucuran menantikan proses ‘loading’ buat membuka daftar nama mahasiswa yang diterima. “Baca Ta, satu persatu, namaku ada nggak?” tanyaku pada Tata yang saat itu dia memagang ‘mousenya’. “Sabar Din.” Jawabnya menenangkanku. “Adi, Agung, …, Bagus, Budi, ehm… Din, namamu ada. Dina Anandaputri.” Kata Tata mengejutkan. “Ha? Beneran Ta?” tanyaku tak percaya. “Iya Din, coba baca sendiri.” Suruh Tata padaku. “Di-na-A-nan-da-pu-tri.’ Ejaku membaca daftar nama itu. “Iya – iya Ta, bener.” Jingkrak – jingkrak kegirangan. Suasana setelah itu menjadi hening karena kami belum menemukan nama Tata, aku sangat berharap sekali Tata juga lulus di universitas yang sama. Berulang – ulang kami membaca. ‘Mouse’ yang dipegang Tata pun aku tarik biar aku yang memainkannya. Mataku dan Tata melotot melihat ke arah monitor mencari, mencari dan mencari. Ketika diulang lagi, ternyata… “Ta, namamu ada nih.” Kataku sambil menarik – narik lengan Tata dengan gemesnya. “Tari Pratiwi” Aku dan Tata sama – sama membaca. Saling menatap dan melepaskan senyuman bahagia yang tak dapat digambarkan dengan kata – kata. ### Liburan telah usai baik itu aku, Tata dan teman – teman lainnya akan membuka lembaran baru menjalani aktivitas yang akan segera dimulai. Dulu selama 12 tahun sekolah harus memakai pakaian seragam, 6 tahun pakai putih merah, 3 tahun putih biru, 3 tahun lagi putih abu – abu dan sekarang… “Bebas” teriakku dalam hati menyambut hari baruku sebagai mahasiswa. #### Empat bulan telah berlalu, mahasiswa sudah sibuk dengan tugasnya masing – masing begitu juga denganku. Disaat pulang kuliah dengan senyum lebar aku menyebrangi jalan, entah apa yang terjadi?, badanku terasa sakit dengan tiba – tiba, terakhir yang kulihat hanya sepatu yang tergeletak disamping kananku, itu sepatu yang biasa aku pakai, lama kelamaan pandanganku menjadi gelap gulita. “Dimana aku?” teriakku ketakutan, tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaanku itu, aku juga tak dapat melihat siapa – siapa, tak ada orang disini, hanya gelap tanpa cahaya, begitu hening seperti tak ada kehidupan, aku sangat takut, untuk melihat tubuhku saja aku tak bisa. Tiba – tiba aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh kulitku, perih sekali, aku tak dapat menahannya, ingin rasanya aku menangis sejadi – jadinya, teriak sekencang – kencangnya namun mulutku terasa dibungkam, terasa kaku sekali, aku ingin berontak tapi aku tak mampu tak lama dari itu aku melihat sepercik cahaya, aku mencoba mengikuti cahaya itu, semakin terang yang kulihat dan akhirnya aku melihat sosok pemuda dihadapanku dengan jelas sekali, aku berpikir pemuda ini pernah kulihat, wajah yang berbentuk oval, berhidung mancung, tatapan mata tajam. “Yah…aku ingat.” Desisku. Dia adalah pemuda yang pernah aku temui ketika pengumuman seleksi pertama yang diadakan oleh kampusku. “Iya, nggak salah lagi.” Belaku menyakinkan. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya pemuda itu padaku. “Kurang baik, badanku terasa sakit semua, apa yang terjadi?” Balasku. “Entahlah, aku tadi melihat kamu sudah pingsan di jalan jadi aku bawa kamu ke rumahku.” Jelasnya. Aku diam sesaat mencoba mengingat kembali yang telah terjadi padaku, aku melihat tanganku dibalut oleh kain kasa putih, sangat perih dan sakit. Setelah ku merasa sedikit baikan, aku diantar pulang ke rumahku. “Terima kasih.” Ucapku. Dia hanya membalas dengan senyuman, senyuman yang pernah kulihat waktu itu. ##### Keesokkan harinya, aku mengikuti aktivitas di kampus seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda, aku merasa semua orang melihat ke arahku, apa mereka melihat balutan yang ada ditanganku? Tapi mengapa harus melihatku seperti itu, layak seorang penjahat saja. “Biasa aja kali.” Gumamku dalam hati sambil menggeleng – gelengkan kepala dan terus berjalan menuju kelas.   “Hai?” sapa seseorang kepadaku tetapi belum sempat aku membalas sapaannya, dia sudah ditarik oleh temannya.  “Adit, sini dulu.” Kata temannya yang menarik lengan orang yang menyapaku tadi. Aku ‘celingak – celinguk’ melihatnya mencari tahu orang yang menyapaku. “Oh… Adit, pemuda itu namanya Adit.” Ucapku sambil melihat pemuda itu berlalu dari pandanganku. “Ehm… selain ganteng, dia juga adalah pahlawan bagiku, menyelamatkanku ketika aku sekarat, seperti cerita dongeng putri tidur yang terbangun dari tidur lamanya ketika mendapatkan ciuman dari sang pangeran yang mencintainya. Oh so sweet.” Khayalanku melambung jauh, memikirkan seseorang yang belum ku kenal sama sekali tetapi kejadian itu sungguh sangat kebetulan atau ini semua telah diatur oleh sang pencipta buat mempertemukan aku dengan pangeranku, ibarat sebuah skenario cerita romantis yang dikhususkan dalam kehidupanku dengan alur yang terus maju mengikuti perputaran rotasi bumi dan waktu. Ini awal cerita yang aku sukai, tokoh utamanya adalah aku, namun tidak ada yang tahu akhir cerita ini, yang tahu hanya pembuat skenario, sad ending ataukah happy ending? “Aaaargh………..” menghela nafas panjang. Aku duduk di dalam kelas, memandangi orang – orang yang berlalu lalang di depan kelasku, mendengar celotehan orang – orang yang terdengar seperti kicauan burung, begitu berisiknya sampai – sampai aku tak menyadari Tata yang telah duduk disampingku sedang mengamati gerak – gerikku dari tadi. “Daaaarrr… ngapain Din? Monyongin bibir kayak giru, ayo ngaku lagi mikirin apaan?” kata Tata mengejutkanku. “Eh… apaan sih!” bantahku cengengesan. “Din, tau nggak?” tanyanya. “Ya mana aku tahu kan belum dikasih tahu.” Jawabku. “Din, ada cowok ganteng banget di kelasku.” Jelas Tata padaku. Aku dan Tata kuliah di kampus yang sama tetapi hanya berbeda fakultas saja, Tata memang suka main ke kelasku, hanya sekedar cerita – cerita dan kali ini aku melihat ada yang berbeda di raut wajah temanku satu ini, seperti terpancar cahaya kebahagiaan. “Din… kayaknya aku jatuh cinta deh, dia itu baik, perhatian, dia tipe aku banget, tau nggak Din? Tatapan matanya itu Din… Ooo… memikat hati, cara dia berbicara, berjalan bahkan sampai cara dia cemberut pun aku suka. Dia sering meminjamkan buku catatannya padaku, belajar bareng dan aku juga pernah ke kantin bareng dia. Ah… bahagia banget.” Curhat Tata. Tetapi belum berhenti disitu saja, ketika kami pulang dan sesampainya di rumahku, Tata mampir sebentar untuk melanjutkan curhatannya. Yah… karena Tata selalu mengantarku pulang dengan sepeda motornya, setiap hati setelah aku mengalami kecelakaan dia selalu mengantarku bukan hanya mengantar saja tetapi menjemputku juga. Tiba di kamarku dia mulai cerita kembali dan ini dia ceritanya. Cekidot !!! “Din.. bagaimana ya biar dia tahu kalau aku menyukainya?” tanyanya padaku. “Iya ditembak aja.” Jawabku singkat. “Eh… enak aja, aku kan cewek.” Lanjut Tata. Aku hanya mengangkat bahu menunjukkan tanda bahwa aku tidak tahu caranya. “Din… bisa – bisa aku tak dapat tidur malam ini, memimpikan sang pangeran hatiku, dia itu berbeda sekali dengan pemuda – pemuda lainnya. Senyumnya itu, manis sekali. Oh pangeranku Adit.” Ceritanya sambil berbaring di kasur tempat peristirahatanku. “Apa?” tanyaku kaget mendengar nama Adit, aku sungguh tidak dapat percaya dengan yang ku dengar. Cerita Tata tadi membuat aku tidak dapat memejamkan mataku, Tata menyukai Adit, kenapa harus terjadi lagi?. Malam terasa sunyi, ku buka jendela, ku tatap bintang di atas langit begitu indahnya, berkelap – kelip memantulkan cahaya, alangkah beruntungnya jika aku menjadi bintang di atas sana dan seakan – akan bintang itu berkataku,”Tersenyumlah”. Suasana malam semakin mencengkam, ku coba untuk menutup mata berharap semuanya hanyalah mimpi, hanya bunga tidurku. Semakin hari yang ku lihat Tata dan Adit semakin dekat, bercanda bersama, membuat aku cemburu dengan kedekatan mereka. Sebenarnya aku ingin sekali menghilang dari peredaran bumi saat ini juga, aku ingin menghapus cerita ini dalam skenario kehidupanku. Dear Diary… Aku begitu menyayangi sahabatku, Tata. Ku bahagia memiliknya. Dia adalah segalanya bagiku, namun kenapa hal ini sering terjadi padaku? Kenapa? Kenapa? Ini bukan yang pertama kalinya aku dan Tata menyukai pemuda yang sama dan sudah kesekian kalinya aku mengalah demi Tata. Apa kali ini aku harus tetap mengalah? Entahlah, mungkin iya, karena aku tak ingin membuat sahabatku sedih, tapi Tata takkan pernah tahu pengorbananku ini, apa mungkin Tata akan membalas semua yang kulakukan? ###### Tiga bulan sudah Tata dan Adit berpacaran, aku harus menerima semua ini, aku bahagia jika sahabatku bahagia walau hatiku menangis. Pagi ini udaranya begitu segar, aku mencoba menenangkan hatiku, menghirup udara pagi, mendengar kicauan burung – burung seolah – olah berkata padaku “Semangat Din!”. “… Sesungguhnya aku tak rela melihat kau dengannya sungguh hati terluka…” dering ponselku. Ketika ku lihat itu telpon dari Tata. Percakapan pun terjadi: Tata: Din, ada jam kuliah pagi nggak hari ini? Aku: Iya ada tapi jam 10. Kenapa Ta? Tata: Oh ya sudah nanti aku jemput ya? Aku sih hari ini lagi kosong, nggak ada jam kuliah. Aku: Yah nggak papa Ta, nggak perlu diantar, kan kamu nggak ada jam kuliah. Tata: Pokoknya aku jemput, tunggu aja. “Tut…tut…tutttt”  suara yang ku dengar, ternyata Tata sudah menutup telponnya, aku sedikit bingung tidak biasanya Tata begini, kalau tidak ada jam kuliah biasanya dia bangun siang tetapi hari ini. “Tumben, tu anak.” gumamku. Sekarang pukul 09.00 wib dan Tata sudah berada di rumahku, berbincang – bincang dengan keluargaku, Tata adalah sahabatku yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri makanya aku tak ingin melihatnya sedih. “Yuk, berangkat?” ajaknya. “OK.” Sambutku. Berhubung Tata hanya membawa satu helm jadi aku tidak memakai helm dan itu biasa, setiap kuliah jika diantar dan dijemput Tata, aku tak pernah memakai helm. Tiba – tiba diperjalanan, Tata memberikan helmnya kepadaku. “Pakai Din, pegangan erat – erat.” Perintah Tata padaku. Saat itu aku tak ada firasat sama sekali, Tata memberikan helm dengan senyum khasnya, aku pun menuruti perintah Tata. Laju motor begitu ngebut. “Ta, pelan – pelan.” Kataku kepada Tata, tetapi Tata hanya menjawab, “Pegangan”. Tak lama kemudian kecelakaan pun terjadi. “Gubrak…” suara keras menghantam motor yang dibawa Tata. Kejadian itu terjadi begitu saja, aku melihat Tata tergeletak tak berdaya, aku menghampiri Tata dengan keadaanku yang sedikit lemah dan penuh dengan luka. “Tata…….” Teriakku sambil memangku kepala Tata yang berlumuran darah, aku mencoba membangunkan Tata, ku menangis tiada hentinya meminta Tata untuk bangun, namun Tata tetap diam tak bergerak. Saat itu juga aku tak sadarkan diri. Ketika sadar aku sudah berada di rumah sakit, aku bangkit mencari Tata dan ku lihat, tubuh Tata sudah diselimuti oleh kain putih yang menutupi wajah dan seluruh tubuhnya, aku tak dapat menerimanya. Keluargaku menceritakan bahwa kecelakaan itu terjadi karena rem motor Tata blong. Aku sontak kaget jika aku tahu dari awal, aku tak mau menerima helm yang diberikan Tata padaku. Ternyata ini balasan yang diberikan Tata kepadaku untuk membalas semua pengorbananku selama ini, tetapi bukan ini yang ku pinta, pengorbananku belum seberapa dibandingkan pengorbanan Tata, yang mengorbankan nyawanya demi aku, sedangkan aku hanya mengorbankan perasaan, dan ini akhir skenario kehidupanku, aku kehilangan sahabat untuk selama – lamanya.

SENYUMAN UNTUK IBU



Disebuah desa hiduplah seorang gadis cantik yang baik hati,pintar,ramah kepada semua orang,selalu tersenyum dia hidup bersama kedua orang tuanya tapi sangat sungguh disayangkan ibunya terkena penyakit yang sangat parah dan ayahnya hanya bekerja sebagai tukang kebun walaupun dia hidup serba kekurangan tapi gadis itu mempunyai niat yang cukup tinggi untuk membahagiakan kedua orang tuanya.

Nama gadis tersebut adalah LASTRI



Tapi semua impiannya itu hanya tinggal kenangan ibunda dari lastri keburu pergi meninggalkan dunia ini dia sangat terpukul dengan kepergian ibunda yang sangat disayangnya sebelum ibundanya pergi iya sempat berpesan


"kejar terus impian mu nak,kamu pasti bisa walaupun ibu sudah tidak ada tapi kamu harus bisa membuat ibu bangga kepada mu dan membuat ibu tersenyum manis di atas sana"

"iya buk,aku berjanji akan menggapai cita_cita ku dan membuat ibu bahagia di atas sana" Lastri


setelah ibundanya meninggal lastri sangat sedih dan terus menangisi kepergian ibunda yang sangat iya sayangi itu. Tapi untunglah iya mempunyai sahabat yang ada di saat dia sedang sedih ataupun senang. Sahabatnya bernama CITRA



"Sudahlah lastri jangan menangis lagi,masa depan mu masih panjang jangan sia_siakan hidupmu ini hanya untuk menangisi kepergian ibumu. Coba kamu pikir,apakah ibumu bisa tersenyum dia atas sana melihat anak yang selalu di sayangnya terus menangisi kepergiannya" citra


"iya aku tau citra,tapi aku belum siap kehilangan orang yang selama ini aku sayang,aku hormati bahkan aku banggakan. Selama ini dia yang selalu merawat ku di saat aku sedang sakit,dia sangat menyayangiku dengan tulus bahkan berani mengorbankan jiwa dan raganya hanya untuk ku dia tidah pernah meminta imbalan sedikit pun kepada ku bahkan sampai Tuhan mengambil kembali dia dari pelukan ku untuk selamalamanya,iya tidak pernah meminta apa pun kepada ku. Bahkan aku belum sempat membalas semua jasa_jasa yang telah iya berikan kepada ku" lastri


"Buatlah iya tersenyum di atas sana lastri,agar iya bangga kepada kamu walaupun kau tak pernah bisa melihat senyum itu tapi percayalah ibumu akan bangga jika melihat anak yang di banggakannya menjadi orang yang berguna untuk orang lain dan menjadi orng yang selama ini iya harapkan" citra



Akhirnya lastri pun bisa menerima kepergian ibundanya dan sekarang iya sudah bisa tersenyum seperti dulu lagi. Semua itu karna ayah dan sahabatnya citra selalu mendukung dan memberi semangat untuk dia dan lastri pun akhirnya bisa membuat ibundanya tersenyum manis di atas sana

cerpen persahabatan


Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Jangan Tidur Lebih Dari 9 Jam Permalam

TRIBUN-TIMUR.COM -- Kita tahu bahwa sulit tidur atau yang biasa disebut insomnia tidak baik untuk kesehatan. Begitu juga dengan "lawannya", yakni oversleeping (kelebihan tidur) atau hipersomnia, ternyata juga tak kalah buruk untuk tubuh.

Meskipun tid
ur merupakan kegiatan yang harus terpenuhi untuk membantu proses peremajaan tubuh, jika dilakukan berlebihan, hal itu akan memberikan dampak negatif untuk kesehatan. Para pakar pun menganjurkan untuk tidak tidur lebih dari sembilan jam tiap malam.

Apa saja yang memungkinkan menjadi penyebab oversleeping atau hipersomnia?

• Sleep apnea, jenis gangguan tidur di mana orang berhenti bernapas untuk sesaat ketika tidur dan dapat menyebabkan meningkatnya kebutuhan tidur karena membuat siklus tidur normal terganggu. Penderita akan merasa lelah dan lemas meski telah tidur selama 10 jam. Gangguan pernapasan mulai terjadi karena dinding tenggorokan cenderung berhenti beraktivitas, sementara individu sedang dalam kondisi bersantai (tidur). Akibatnya, aliran udara di dalam tubuh berhenti dan seketika individu tersebut terbangun untuk bernapas.

• Narcolepsy, masalah neurologis yang menyebabkan tidur berlebihan. Narcolepsy memengaruhi bagian otak yang mengontrol dan mengatur tidur. Penderita (narcolepsy) gagal untuk mengidentifikasi dan membedakan waktu tidur dengan waktu untuk tetap terjaga. Penderita dapat tertidur di mana saja dan kapan saja.

• Stres dan depresi. Dua hal ini memang harus dihindari karena dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan jiwa, juga mental, tak terkecuali oversleeping.

• Kelelahan. Kelelahan akibat bekerja terlalu keras, gangguan tidur, kehamilan, atau kekurangan tidur merupakan salah satu penyebab utama oversleeping. Ketika merasa lelah, Anda cenderung memutuskan tidur lebih lama, bahkan lebih dari sembilan jam, untuk mencoba agar segar kembali.

Apa dampak oversleeping bagi kesehatan?

• Diabetes. Penelitian menunjukkan, orang yang tidur lebih dari sembilan jam tiap malam berisiko 50 persen lebih besar terkena diabetes dibandingkan dengan mereka yang tidur tujuh jam per malam. Penelitian juga menemukan, oversleeping dapat mengindikasikan gangguan medis yang meningkatkan kemungkinan pengaruh diabetes.

• Obesitas. Penelitian menunjukkan, mereka yang tidur selama 9-10 jam tiap malam 21 persen lebih mungkin mengalami obesitas daripada mereka yang hanya tidur selama 7-8 jam.

• Sakit jantung. Sebuah penelitian menunjukkan, wanita yang tidur selama 9-11 jam  tiap malam 38 persen lebih mungkin terkena penyakit jantung koroner.


• Sakit kepala. Para peneliti meyakini, sakit kepala bisa merupakan efek dari oversleeping. Mereka yang tidur terlalu lama pada siang hari sering mengalami gangguan ketika hendak tidur pada malam harinya sehingga menyebabkan timbulnya sakit kepala pada keesokan hari.

• Nyeri punggung. Ketika Anda berbaring di tempat tidur selama berjam-jam, sering kali timbul nyeri pada punggung. Orang yang menderita sakit punggung atau rentan terhadap sakit punggung pun dianjurkan dokter untuk tetap aktif bergerak, tidak sering berbaring atau tiduran.

• Kematian. Beberapa penelitian menemukan, orang yang tidur sembilan jam atau lebih tiap malam memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada mereka yang tidur tujuh hingga delapan jam per malam. Para peneliti berspekulasi, depresi dan rendahnya status sosial ekonomi (juga dikaitkan dengan tidur lebih lama) dapat dihubungkan dengan meningkatnya mortalitas (kematian).

Apa pilihan pengobatan untuk mengatasi oversleeping?

Tidur yang lama biasanya tidak membutuhkan pengobatan, kecuali jika gejala yang muncul menandakan adanya gangguan yang lebih serius. Pada kasus-kasus tersebut, penyebabnya harus diketahui terlebih dahulu. Masalah terbesar mereka yang punya kebiasaan tidur lama adalah menyesuaikan jadwal harian untuk waktu tidur. Jika tidak memenuhi kuantitas tidur yang dibutuhkan, mereka biasanya akan merasa kesal dan mengalami kelelahan pada keesokan harinya. Mereka juga menghadapi masalah dalam hubungan sosial.

Tips mengatasi oversleeping:

• Pilih nada atau suara alarm yang tepat. Memilih suara yang tepat penting artinya untuk mengembalikan Anda ke realitas, bahkan dari tidur Anda yang paling dalam.

• Jangan tergoda untuk tidur ringan atau snooze setelah Anda terbangun. Hindarilah penggunaan tombol snooze pada alarm karena hanya akan mengacaukan jadwal alarm Anda.

• Pertahankan jadwal tidur secara teratur. Buatlah kebiasaan yang membuat tubuh Anda teratur untuk beristirahat dan kembali siap untuk beraktivitas pada hari berikutnya. Rencanakan program aktivitas hingga larut hanya pada saat Anda bebas dari tenggat pada keesokan harinya.

•  Berkonsultasi dengan dokter.  Temuilah dokter jika Anda mengalami gejala oversleeping kronis. Hal itu penting untuk mengetahui gangguan atau penyakit yang menyebabkan Anda mengalami oversleeping

11-12-2011

IT'S ME

This is me !

"Gila"

0

Kosong, kosong dan kosong. Begitulah pandanganku, meski yang kulihat diluar begitu ramai tetap saja pandanganku kosong. Kenapa aku ada disini? Di tempat serba putih, sempit, tertutup dan beraroma bau yang tak aku sukai. Aku terduduk lesu di atas ranjang besi berkasur dengan sepray putih. Entah apa yang aku pikirkan? Aku seperti orang idiot yang tak tahu arah, tersesat didalam pikiranku sendiri, yang kuingat hanyalah sebuah nama yaitu Andi. Ya… nama itu yang sering aku ucapkan ketika aku merasa ketakutan, sehingga mataku basah seketika. “Andi…” kumenjerit sekencang – kencangnya. “Kreeekk…krekkk…” suara pintu yang perlahan terbuka yang membiarkan cahaya menerobos ruangan dan menyilaukan mataku. “Siapa kalian?” tanyaku pada wanita yang berseragam putih itu. Tetapi tak ada yang menjawab sama sekali, aku tetap bertanya, “Siapa kalian? Siapa kalian?” berulang – ulang aku bertanya tetapi tetap saja tak ada jawaban sehingga membuatku teriak ketakutan begitu histerisnya, “Pergi…” sembari melemparnya dengan barang – barang yang berada dekat denganku. Semakinku berteriak, mereka semakin mendekat. Mengikat kedua tangan dan kakiku. Mereka begitu kejam memasungku seperti ini, bukan itu saja, mereka menghujamkan jarum dilengan tanganku, aku mencoba berontak tetapi tubuhku semakin lemas tak berdaya. Mataku pun terasa berat, entah apa yang mereka masukkan kedalam tubuhku, air mata yang membasahi pipiku kini mulai mengering dan akhirnya aku kehilangan kesadaran. Tampak begitu gelap tanpa cahaya seperti tak ada kehidupan, “Tempat apa ini?” tanyaku. Tiba – tiba aku melihat cahaya terang, aku ikuti dan aku berada di suatu kehidupan yang sepertinya aku tahu itu. “Sayang, mau kemana kita?” Tanya Andi padaku. “Pulang aja ya, capek nih.” Jawabku. “Hmmm… nanti dong sayang, aku masih ingin bersamamu, hari ini aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu. Mau ya sayang?” Bujuknya. “Ah… malas, pulang ajalah.” Kataku menolak ajakan Andi. “Please… please… mau ya?” Rayu Andi sembari menggenggam tanganku. “Nggak… kataku nggak ya nggak.” Bentakku pada Andi. Aku tetap menolak ajakan Anda meski dia bertekuk lutut dihadapanku, memasang muka memelas, tapi aku bersikokoh untuk pulang. Andi pun mengantarku pulang, disepanjang perjalanan kami berdua membisu tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut kami berdua, terasa canggung. Mungkin Andi marah denganku karena tak menghiraukan keinginannya. “Berhenti disini aja.” Kataku menghentikan laju motor Andi. Seketika Andi pun berhenti. “Kenapa disini?, masuk aja ya.” Ucapnya sambil membuka kaca helmnya. “Ya nggak apa – apa, kalau masukkan harus mutar dulu, ngerepotin jadi disini aja., biar aku jalan.” Jelasku. “Oh… ya udah, aku pulang.” Katanya. Aku masih berdiri di depan lorong gangku, menunggu sampai Andi menjauh. Tiba – tiba saja aku melihat motor yang dikendarai Andi yang melaju kencang bertabrakan dengan truk yang berlawanan arah. Aku melihat tubuh Andi terlempar 5m dari kendaraannya yang terhempas oleh truk. Kejadian itu tepat didepan mataku, dengan cepat aku menghampiri Andi yang penuh dengan luka dan darah, helmnya pun pecah. Aku mencoba membangunkannya, “Sayang bangun…” pintaku pada Andi. Aku tak dapat membendung air mataku lagi, aku terus mencoba membangunkannya, mengoyang – goyangkan tubuhnya tetapi tak ada respon sama sekali, aku hanya merasakan Andi menggenggam erat tanganku, tapi itu tak berlangsung lama, genggemannya semakin mengendur dan akhirnya Andi menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuanku. “Andi… Andi… Andi…” teriakku. Ketika aku teriak, aku tersontak terkejut, nafasku tak beraturan, kuberanjak dari tempat tidur, duduk di sudut ruangan, aku merasakan ketakutan yang dalam. Keesokkan harinya, pintu yang selama ini tertutup rapat kini terbuka lebar, aku melangkahkan kaki keluar, belum sempat ku berjalan jauh, tiba – tiba ada segerombolan orang mendekatiku, ada yang menjambak – jambak rambutku, ada yang menarik – narik lengan bahkan tubuhku, hingga aku terjatuh. Aku hanya bisa berteriak,”Andi…” seolah meminta tolong kepada orang yang memiliki nama itu. Tak lama dari itu orang – orang yang tadi berlaku kasar kepadaku pergi, menjauh dariku. Aku masih terlihat begitu ketakutan, aku berlari dan memeluk seseorang yang aku anggap itu Andi, tetapi rangkulan tangaku terlepas dan aku pun terjatuh. “Dasar gila !” Bentak orang itu

1 Rasa dan Pengorbanan

0


“Pengumunan bagi calon mahasiswa yang telah lulus seleksi pertama harap berkumpul di ruang auditorium segera, karena ada pemberitahuan mengenai seleksi berikutnya.” Suara yang menggema dipenjuru ruangan, yang sejenak menghentikan keributan di ruangan tersebut. “Hore… hore…” teriak salah satu calon mahasiswa dengan kencangnya. “Ssssttt… bisa diam nggak, berisik tau !” bentak teman sebelahnya yang terganggu akibat teriakannya. “Weeeeekkk…” cibirnya sambil meninggalkan ruangan. Ruangan yang tadinya ramai dengan sorokan kegembiraan yang bercampur aduk dengan isak tangis peserta yang kurang beruntung, kini menjadi sepi, sunyi dan senyap bak area pemakaman. ( iiihhh serem !!!) # “Din?” sapa seseorang memanggil namaku. Suaranya terdengar jelas ditelingaku namun aku tidak tahu siapa yang memanggil ?, aku mencari dikerumunan orang – orang yang begitu padat dan ramai tetapi tidak ada yang aku kenal. “Bruukkk…” suara yang terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh ke lantai. “Aduh…” keluhku sambil memagang dan mengelus – elus pundakku. Ternyata suara tadi adalah suara tas yang jatuh. Yah… tentunya itu adalah tasku. Ketika aku merunduk ke bawah, mencoba menggapai tas yang berada di lantai, tiba – tiba ada seseorang yang mengambilnya. Aku tersontak kaget, tanganku yang kugunakan untuk menggapai tadi terhenti seperti mesin waktu yang distop beberapa saat, ketika waktu berputar kembali seperti biasa, aku berteriak, “Woy… tasku” sambil menoleh ke arah seseorang yang mengambil tas tadi, aku hanya melihat sebuah senyuman yang menurutku lumayan manis, oops… salah, bukan lumayan manis  tetapi luar biasa manisnya dan satu kata yang terdengar “Maaf”. Aku tak menghiraukan kata itu, aku sungguh terpesona dengan makhuk satu ini. “Ya ampun gantengnya.” Pujiku dalam hati sambil gigit jari melihat pemuda dihadapanku. ( jadi kayak orang bego’ ). “Halo?” katanya sambil melambai – lambaikan tangannya di depan wajahku. “Ada yang sakit?” lanjutnya membuyarkan pendanganku. “E…e…enggak kok.” Jawabku terbatah – batah. ( asli bego’ nih, bukan kayaknya lagi. hahahaaha ). “Oh yah udah, sekali lagi maaf ya?” Kata pemuda itu sambil meletakkan tali tas kepundakku. Dia pun belalu dari hadapanku. “Ehm… namanya siapa ya? Wah… kenapa aku nggak nanya tadi.” Celotehku sambil memukul – mukul dahi sendiri. Aku berjalan menuju kursi yang kosong dengan muka menyesal dan penasaran, aku duduk dengan manis, tatapan ke depan dengan raut muka cemberut. 5 menit… 10 menit… 15 menit telah berlalu namun aku tetap duduk manis, tatapan ke depan dengan muka cemberut persis sama dengan keadaan sebelumnya. “Hai Din... disini rupanya.” Sapa seseorang, namun ku tetap diam, hanya menolehkan kepala ke kanan dan yang ku lihat sesosok gadis cantik dengan rambut terurai panjang. “Hai Ta.” Balasku menyapa. Ini adalah sahabat karibku nama lengkapnya Tari Pratiwi, yang ku sapa dengan nama Tata. Dia bersahabat denganku sejak kecil bahasa kerennya sejak masih ingusan (hehehe). Aku dan Tata selalu sekolah di tempat yang sama, kecuali dijenjang sekolah menengah ke atas. Harapanku, Aku dan Tata mendapatkan perguruan tinggi yang sama, meskipun diprogram yang berbeda. Yah… karena ‘skill’ yang kami punya berbeda. “Din, gimana test berikutnya kita berangkat bareng ya?’ ajak Tata. “Ok!” sahutku sambil mengacungkan jempol. ## Dua bulan berikutnya setelah test terakhir, pengumuman mahasiswa yang lulus di salah satu universitas negeri di kotaku telah dapat diakses melalui internet, dimana aku dan sahabatku Tata ikut dalam test tersebut. Dengan hati penasaran dan jantung yang berdegup kencang yang terdengar “dag dig dug” serta keringat bercucuran menantikan proses ‘loading’ buat membuka daftar nama mahasiswa yang diterima. “Baca Ta, satu persatu, namaku ada nggak?” tanyaku pada Tata yang saat itu dia memagang ‘mousenya’. “Sabar Din.” Jawabnya menenangkanku. “Adi, Agung, …, Bagus, Budi, ehm… Din, namamu ada. Dina Anandaputri.” Kata Tata mengejutkan. “Ha? Beneran Ta?” tanyaku tak percaya. “Iya Din, coba baca sendiri.” Suruh Tata padaku. “Di-na-A-nan-da-pu-tri.’ Ejaku membaca daftar nama itu. “Iya – iya Ta, bener.” Jingkrak – jingkrak kegirangan. Suasana setelah itu menjadi hening karena kami belum menemukan nama Tata, aku sangat berharap sekali Tata juga lulus di universitas yang sama. Berulang – ulang kami membaca. ‘Mouse’ yang dipegang Tata pun aku tarik biar aku yang memainkannya. Mataku dan Tata melotot melihat ke arah monitor mencari, mencari dan mencari. Ketika diulang lagi, ternyata… “Ta, namamu ada nih.” Kataku sambil menarik – narik lengan Tata dengan gemesnya. “Tari Pratiwi” Aku dan Tata sama – sama membaca. Saling menatap dan melepaskan senyuman bahagia yang tak dapat digambarkan dengan kata – kata. ### Liburan telah usai baik itu aku, Tata dan teman – teman lainnya akan membuka lembaran baru menjalani aktivitas yang akan segera dimulai. Dulu selama 12 tahun sekolah harus memakai pakaian seragam, 6 tahun pakai putih merah, 3 tahun putih biru, 3 tahun lagi putih abu – abu dan sekarang… “Bebas” teriakku dalam hati menyambut hari baruku sebagai mahasiswa. #### Empat bulan telah berlalu, mahasiswa sudah sibuk dengan tugasnya masing – masing begitu juga denganku. Disaat pulang kuliah dengan senyum lebar aku menyebrangi jalan, entah apa yang terjadi?, badanku terasa sakit dengan tiba – tiba, terakhir yang kulihat hanya sepatu yang tergeletak disamping kananku, itu sepatu yang biasa aku pakai, lama kelamaan pandanganku menjadi gelap gulita. “Dimana aku?” teriakku ketakutan, tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaanku itu, aku juga tak dapat melihat siapa – siapa, tak ada orang disini, hanya gelap tanpa cahaya, begitu hening seperti tak ada kehidupan, aku sangat takut, untuk melihat tubuhku saja aku tak bisa. Tiba – tiba aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh kulitku, perih sekali, aku tak dapat menahannya, ingin rasanya aku menangis sejadi – jadinya, teriak sekencang – kencangnya namun mulutku terasa dibungkam, terasa kaku sekali, aku ingin berontak tapi aku tak mampu tak lama dari itu aku melihat sepercik cahaya, aku mencoba mengikuti cahaya itu, semakin terang yang kulihat dan akhirnya aku melihat sosok pemuda dihadapanku dengan jelas sekali, aku berpikir pemuda ini pernah kulihat, wajah yang berbentuk oval, berhidung mancung, tatapan mata tajam. “Yah…aku ingat.” Desisku. Dia adalah pemuda yang pernah aku temui ketika pengumuman seleksi pertama yang diadakan oleh kampusku. “Iya, nggak salah lagi.” Belaku menyakinkan. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya pemuda itu padaku. “Kurang baik, badanku terasa sakit semua, apa yang terjadi?” Balasku. “Entahlah, aku tadi melihat kamu sudah pingsan di jalan jadi aku bawa kamu ke rumahku.” Jelasnya. Aku diam sesaat mencoba mengingat kembali yang telah terjadi padaku, aku melihat tanganku dibalut oleh kain kasa putih, sangat perih dan sakit. Setelah ku merasa sedikit baikan, aku diantar pulang ke rumahku. “Terima kasih.” Ucapku. Dia hanya membalas dengan senyuman, senyuman yang pernah kulihat waktu itu. ##### Keesokkan harinya, aku mengikuti aktivitas di kampus seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda, aku merasa semua orang melihat ke arahku, apa mereka melihat balutan yang ada ditanganku? Tapi mengapa harus melihatku seperti itu, layak seorang penjahat saja. “Biasa aja kali.” Gumamku dalam hati sambil menggeleng – gelengkan kepala dan terus berjalan menuju kelas.   “Hai?” sapa seseorang kepadaku tetapi belum sempat aku membalas sapaannya, dia sudah ditarik oleh temannya.  “Adit, sini dulu.” Kata temannya yang menarik lengan orang yang menyapaku tadi. Aku ‘celingak – celinguk’ melihatnya mencari tahu orang yang menyapaku. “Oh… Adit, pemuda itu namanya Adit.” Ucapku sambil melihat pemuda itu berlalu dari pandanganku. “Ehm… selain ganteng, dia juga adalah pahlawan bagiku, menyelamatkanku ketika aku sekarat, seperti cerita dongeng putri tidur yang terbangun dari tidur lamanya ketika mendapatkan ciuman dari sang pangeran yang mencintainya. Oh so sweet.” Khayalanku melambung jauh, memikirkan seseorang yang belum ku kenal sama sekali tetapi kejadian itu sungguh sangat kebetulan atau ini semua telah diatur oleh sang pencipta buat mempertemukan aku dengan pangeranku, ibarat sebuah skenario cerita romantis yang dikhususkan dalam kehidupanku dengan alur yang terus maju mengikuti perputaran rotasi bumi dan waktu. Ini awal cerita yang aku sukai, tokoh utamanya adalah aku, namun tidak ada yang tahu akhir cerita ini, yang tahu hanya pembuat skenario, sad ending ataukah happy ending? “Aaaargh………..” menghela nafas panjang. Aku duduk di dalam kelas, memandangi orang – orang yang berlalu lalang di depan kelasku, mendengar celotehan orang – orang yang terdengar seperti kicauan burung, begitu berisiknya sampai – sampai aku tak menyadari Tata yang telah duduk disampingku sedang mengamati gerak – gerikku dari tadi. “Daaaarrr… ngapain Din? Monyongin bibir kayak giru, ayo ngaku lagi mikirin apaan?” kata Tata mengejutkanku. “Eh… apaan sih!” bantahku cengengesan. “Din, tau nggak?” tanyanya. “Ya mana aku tahu kan belum dikasih tahu.” Jawabku. “Din, ada cowok ganteng banget di kelasku.” Jelas Tata padaku. Aku dan Tata kuliah di kampus yang sama tetapi hanya berbeda fakultas saja, Tata memang suka main ke kelasku, hanya sekedar cerita – cerita dan kali ini aku melihat ada yang berbeda di raut wajah temanku satu ini, seperti terpancar cahaya kebahagiaan. “Din… kayaknya aku jatuh cinta deh, dia itu baik, perhatian, dia tipe aku banget, tau nggak Din? Tatapan matanya itu Din… Ooo… memikat hati, cara dia berbicara, berjalan bahkan sampai cara dia cemberut pun aku suka. Dia sering meminjamkan buku catatannya padaku, belajar bareng dan aku juga pernah ke kantin bareng dia. Ah… bahagia banget.” Curhat Tata. Tetapi belum berhenti disitu saja, ketika kami pulang dan sesampainya di rumahku, Tata mampir sebentar untuk melanjutkan curhatannya. Yah… karena Tata selalu mengantarku pulang dengan sepeda motornya, setiap hati setelah aku mengalami kecelakaan dia selalu mengantarku bukan hanya mengantar saja tetapi menjemputku juga. Tiba di kamarku dia mulai cerita kembali dan ini dia ceritanya. Cekidot !!! “Din.. bagaimana ya biar dia tahu kalau aku menyukainya?” tanyanya padaku. “Iya ditembak aja.” Jawabku singkat. “Eh… enak aja, aku kan cewek.” Lanjut Tata. Aku hanya mengangkat bahu menunjukkan tanda bahwa aku tidak tahu caranya. “Din… bisa – bisa aku tak dapat tidur malam ini, memimpikan sang pangeran hatiku, dia itu berbeda sekali dengan pemuda – pemuda lainnya. Senyumnya itu, manis sekali. Oh pangeranku Adit.” Ceritanya sambil berbaring di kasur tempat peristirahatanku. “Apa?” tanyaku kaget mendengar nama Adit, aku sungguh tidak dapat percaya dengan yang ku dengar. Cerita Tata tadi membuat aku tidak dapat memejamkan mataku, Tata menyukai Adit, kenapa harus terjadi lagi?. Malam terasa sunyi, ku buka jendela, ku tatap bintang di atas langit begitu indahnya, berkelap – kelip memantulkan cahaya, alangkah beruntungnya jika aku menjadi bintang di atas sana dan seakan – akan bintang itu berkataku,”Tersenyumlah”. Suasana malam semakin mencengkam, ku coba untuk menutup mata berharap semuanya hanyalah mimpi, hanya bunga tidurku. Semakin hari yang ku lihat Tata dan Adit semakin dekat, bercanda bersama, membuat aku cemburu dengan kedekatan mereka. Sebenarnya aku ingin sekali menghilang dari peredaran bumi saat ini juga, aku ingin menghapus cerita ini dalam skenario kehidupanku. Dear Diary… Aku begitu menyayangi sahabatku, Tata. Ku bahagia memiliknya. Dia adalah segalanya bagiku, namun kenapa hal ini sering terjadi padaku? Kenapa? Kenapa? Ini bukan yang pertama kalinya aku dan Tata menyukai pemuda yang sama dan sudah kesekian kalinya aku mengalah demi Tata. Apa kali ini aku harus tetap mengalah? Entahlah, mungkin iya, karena aku tak ingin membuat sahabatku sedih, tapi Tata takkan pernah tahu pengorbananku ini, apa mungkin Tata akan membalas semua yang kulakukan? ###### Tiga bulan sudah Tata dan Adit berpacaran, aku harus menerima semua ini, aku bahagia jika sahabatku bahagia walau hatiku menangis. Pagi ini udaranya begitu segar, aku mencoba menenangkan hatiku, menghirup udara pagi, mendengar kicauan burung – burung seolah – olah berkata padaku “Semangat Din!”. “… Sesungguhnya aku tak rela melihat kau dengannya sungguh hati terluka…” dering ponselku. Ketika ku lihat itu telpon dari Tata. Percakapan pun terjadi: Tata: Din, ada jam kuliah pagi nggak hari ini? Aku: Iya ada tapi jam 10. Kenapa Ta? Tata: Oh ya sudah nanti aku jemput ya? Aku sih hari ini lagi kosong, nggak ada jam kuliah. Aku: Yah nggak papa Ta, nggak perlu diantar, kan kamu nggak ada jam kuliah. Tata: Pokoknya aku jemput, tunggu aja. “Tut…tut…tutttt”  suara yang ku dengar, ternyata Tata sudah menutup telponnya, aku sedikit bingung tidak biasanya Tata begini, kalau tidak ada jam kuliah biasanya dia bangun siang tetapi hari ini. “Tumben, tu anak.” gumamku. Sekarang pukul 09.00 wib dan Tata sudah berada di rumahku, berbincang – bincang dengan keluargaku, Tata adalah sahabatku yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri makanya aku tak ingin melihatnya sedih. “Yuk, berangkat?” ajaknya. “OK.” Sambutku. Berhubung Tata hanya membawa satu helm jadi aku tidak memakai helm dan itu biasa, setiap kuliah jika diantar dan dijemput Tata, aku tak pernah memakai helm. Tiba – tiba diperjalanan, Tata memberikan helmnya kepadaku. “Pakai Din, pegangan erat – erat.” Perintah Tata padaku. Saat itu aku tak ada firasat sama sekali, Tata memberikan helm dengan senyum khasnya, aku pun menuruti perintah Tata. Laju motor begitu ngebut. “Ta, pelan – pelan.” Kataku kepada Tata, tetapi Tata hanya menjawab, “Pegangan”. Tak lama kemudian kecelakaan pun terjadi. “Gubrak…” suara keras menghantam motor yang dibawa Tata. Kejadian itu terjadi begitu saja, aku melihat Tata tergeletak tak berdaya, aku menghampiri Tata dengan keadaanku yang sedikit lemah dan penuh dengan luka. “Tata…….” Teriakku sambil memangku kepala Tata yang berlumuran darah, aku mencoba membangunkan Tata, ku menangis tiada hentinya meminta Tata untuk bangun, namun Tata tetap diam tak bergerak. Saat itu juga aku tak sadarkan diri. Ketika sadar aku sudah berada di rumah sakit, aku bangkit mencari Tata dan ku lihat, tubuh Tata sudah diselimuti oleh kain putih yang menutupi wajah dan seluruh tubuhnya, aku tak dapat menerimanya. Keluargaku menceritakan bahwa kecelakaan itu terjadi karena rem motor Tata blong. Aku sontak kaget jika aku tahu dari awal, aku tak mau menerima helm yang diberikan Tata padaku. Ternyata ini balasan yang diberikan Tata kepadaku untuk membalas semua pengorbananku selama ini, tetapi bukan ini yang ku pinta, pengorbananku belum seberapa dibandingkan pengorbanan Tata, yang mengorbankan nyawanya demi aku, sedangkan aku hanya mengorbankan perasaan, dan ini akhir skenario kehidupanku, aku kehilangan sahabat untuk selama – lamanya.

SENYUMAN UNTUK IBU

0



Disebuah desa hiduplah seorang gadis cantik yang baik hati,pintar,ramah kepada semua orang,selalu tersenyum dia hidup bersama kedua orang tuanya tapi sangat sungguh disayangkan ibunya terkena penyakit yang sangat parah dan ayahnya hanya bekerja sebagai tukang kebun walaupun dia hidup serba kekurangan tapi gadis itu mempunyai niat yang cukup tinggi untuk membahagiakan kedua orang tuanya.

Nama gadis tersebut adalah LASTRI



Tapi semua impiannya itu hanya tinggal kenangan ibunda dari lastri keburu pergi meninggalkan dunia ini dia sangat terpukul dengan kepergian ibunda yang sangat disayangnya sebelum ibundanya pergi iya sempat berpesan


"kejar terus impian mu nak,kamu pasti bisa walaupun ibu sudah tidak ada tapi kamu harus bisa membuat ibu bangga kepada mu dan membuat ibu tersenyum manis di atas sana"

"iya buk,aku berjanji akan menggapai cita_cita ku dan membuat ibu bahagia di atas sana" Lastri


setelah ibundanya meninggal lastri sangat sedih dan terus menangisi kepergian ibunda yang sangat iya sayangi itu. Tapi untunglah iya mempunyai sahabat yang ada di saat dia sedang sedih ataupun senang. Sahabatnya bernama CITRA



"Sudahlah lastri jangan menangis lagi,masa depan mu masih panjang jangan sia_siakan hidupmu ini hanya untuk menangisi kepergian ibumu. Coba kamu pikir,apakah ibumu bisa tersenyum dia atas sana melihat anak yang selalu di sayangnya terus menangisi kepergiannya" citra


"iya aku tau citra,tapi aku belum siap kehilangan orang yang selama ini aku sayang,aku hormati bahkan aku banggakan. Selama ini dia yang selalu merawat ku di saat aku sedang sakit,dia sangat menyayangiku dengan tulus bahkan berani mengorbankan jiwa dan raganya hanya untuk ku dia tidah pernah meminta imbalan sedikit pun kepada ku bahkan sampai Tuhan mengambil kembali dia dari pelukan ku untuk selamalamanya,iya tidak pernah meminta apa pun kepada ku. Bahkan aku belum sempat membalas semua jasa_jasa yang telah iya berikan kepada ku" lastri


"Buatlah iya tersenyum di atas sana lastri,agar iya bangga kepada kamu walaupun kau tak pernah bisa melihat senyum itu tapi percayalah ibumu akan bangga jika melihat anak yang di banggakannya menjadi orang yang berguna untuk orang lain dan menjadi orng yang selama ini iya harapkan" citra



Akhirnya lastri pun bisa menerima kepergian ibundanya dan sekarang iya sudah bisa tersenyum seperti dulu lagi. Semua itu karna ayah dan sahabatnya citra selalu mendukung dan memberi semangat untuk dia dan lastri pun akhirnya bisa membuat ibundanya tersenyum manis di atas sana

cerpen persahabatan

0


Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Jangan Tidur Lebih Dari 9 Jam Permalam

0

TRIBUN-TIMUR.COM -- Kita tahu bahwa sulit tidur atau yang biasa disebut insomnia tidak baik untuk kesehatan. Begitu juga dengan "lawannya", yakni oversleeping (kelebihan tidur) atau hipersomnia, ternyata juga tak kalah buruk untuk tubuh.

Meskipun tid
ur merupakan kegiatan yang harus terpenuhi untuk membantu proses peremajaan tubuh, jika dilakukan berlebihan, hal itu akan memberikan dampak negatif untuk kesehatan. Para pakar pun menganjurkan untuk tidak tidur lebih dari sembilan jam tiap malam.

Apa saja yang memungkinkan menjadi penyebab oversleeping atau hipersomnia?

• Sleep apnea, jenis gangguan tidur di mana orang berhenti bernapas untuk sesaat ketika tidur dan dapat menyebabkan meningkatnya kebutuhan tidur karena membuat siklus tidur normal terganggu. Penderita akan merasa lelah dan lemas meski telah tidur selama 10 jam. Gangguan pernapasan mulai terjadi karena dinding tenggorokan cenderung berhenti beraktivitas, sementara individu sedang dalam kondisi bersantai (tidur). Akibatnya, aliran udara di dalam tubuh berhenti dan seketika individu tersebut terbangun untuk bernapas.

• Narcolepsy, masalah neurologis yang menyebabkan tidur berlebihan. Narcolepsy memengaruhi bagian otak yang mengontrol dan mengatur tidur. Penderita (narcolepsy) gagal untuk mengidentifikasi dan membedakan waktu tidur dengan waktu untuk tetap terjaga. Penderita dapat tertidur di mana saja dan kapan saja.

• Stres dan depresi. Dua hal ini memang harus dihindari karena dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan jiwa, juga mental, tak terkecuali oversleeping.

• Kelelahan. Kelelahan akibat bekerja terlalu keras, gangguan tidur, kehamilan, atau kekurangan tidur merupakan salah satu penyebab utama oversleeping. Ketika merasa lelah, Anda cenderung memutuskan tidur lebih lama, bahkan lebih dari sembilan jam, untuk mencoba agar segar kembali.

Apa dampak oversleeping bagi kesehatan?

• Diabetes. Penelitian menunjukkan, orang yang tidur lebih dari sembilan jam tiap malam berisiko 50 persen lebih besar terkena diabetes dibandingkan dengan mereka yang tidur tujuh jam per malam. Penelitian juga menemukan, oversleeping dapat mengindikasikan gangguan medis yang meningkatkan kemungkinan pengaruh diabetes.

• Obesitas. Penelitian menunjukkan, mereka yang tidur selama 9-10 jam tiap malam 21 persen lebih mungkin mengalami obesitas daripada mereka yang hanya tidur selama 7-8 jam.

• Sakit jantung. Sebuah penelitian menunjukkan, wanita yang tidur selama 9-11 jam  tiap malam 38 persen lebih mungkin terkena penyakit jantung koroner.


• Sakit kepala. Para peneliti meyakini, sakit kepala bisa merupakan efek dari oversleeping. Mereka yang tidur terlalu lama pada siang hari sering mengalami gangguan ketika hendak tidur pada malam harinya sehingga menyebabkan timbulnya sakit kepala pada keesokan hari.

• Nyeri punggung. Ketika Anda berbaring di tempat tidur selama berjam-jam, sering kali timbul nyeri pada punggung. Orang yang menderita sakit punggung atau rentan terhadap sakit punggung pun dianjurkan dokter untuk tetap aktif bergerak, tidak sering berbaring atau tiduran.

• Kematian. Beberapa penelitian menemukan, orang yang tidur sembilan jam atau lebih tiap malam memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada mereka yang tidur tujuh hingga delapan jam per malam. Para peneliti berspekulasi, depresi dan rendahnya status sosial ekonomi (juga dikaitkan dengan tidur lebih lama) dapat dihubungkan dengan meningkatnya mortalitas (kematian).

Apa pilihan pengobatan untuk mengatasi oversleeping?

Tidur yang lama biasanya tidak membutuhkan pengobatan, kecuali jika gejala yang muncul menandakan adanya gangguan yang lebih serius. Pada kasus-kasus tersebut, penyebabnya harus diketahui terlebih dahulu. Masalah terbesar mereka yang punya kebiasaan tidur lama adalah menyesuaikan jadwal harian untuk waktu tidur. Jika tidak memenuhi kuantitas tidur yang dibutuhkan, mereka biasanya akan merasa kesal dan mengalami kelelahan pada keesokan harinya. Mereka juga menghadapi masalah dalam hubungan sosial.

Tips mengatasi oversleeping:

• Pilih nada atau suara alarm yang tepat. Memilih suara yang tepat penting artinya untuk mengembalikan Anda ke realitas, bahkan dari tidur Anda yang paling dalam.

• Jangan tergoda untuk tidur ringan atau snooze setelah Anda terbangun. Hindarilah penggunaan tombol snooze pada alarm karena hanya akan mengacaukan jadwal alarm Anda.

• Pertahankan jadwal tidur secara teratur. Buatlah kebiasaan yang membuat tubuh Anda teratur untuk beristirahat dan kembali siap untuk beraktivitas pada hari berikutnya. Rencanakan program aktivitas hingga larut hanya pada saat Anda bebas dari tenggat pada keesokan harinya.

•  Berkonsultasi dengan dokter.  Temuilah dokter jika Anda mengalami gejala oversleeping kronis. Hal itu penting untuk mengetahui gangguan atau penyakit yang menyebabkan Anda mengalami oversleeping

IT'S ME

0

This is me !

Template by:

Free Blog Templates